Senin, 10 Mei 2010

Terjadi Kesenjangan Pencapaian Penurunan

When you're learning about something new, it's easy to feel overwhelmed by the sheer amount of relevant information available. This informative article should help you focus on the central points.
Jakarta, Kompas - Pemerintah optimistis dapat mencapai target penurunan angka kematian bayi dan ibu secara nasional terkait tujuan pembangunan milenium. Namun, diakui masih terjadi kesenjangan pencapaian target antarprovinsi.

Hal itu terungkap dalam Dialog Interaktif Tanggung Jawab Kita Bersama Mengurangi Kematian Ibu dan Balita, Senin (10/5).

Dalam sambutannya, Menteri Kesehatan Endang Rahayu Sedyaningsih mengungkapkan optimisme tercapainya target, antara lain, penurunan angka kematian bayi dan penurunan angka kematian ibu melahirkan.

Target tujuan pembangunan milenium (MDG) adalah angka kematian bayi 24 per 1.000 kelahiran hidup"saat ini 34 per 1.000 kelahiran hidup. Dia mengatakan, masih terdapat kesenjangan tinggi angka kematian bayi di Indonesia.

Sometimes the most important aspects of a subject are not immediately obvious. Keep reading to get the complete picture.

DI Yogyakarta, misalnya, angka sudah di bawah rata-rata nasional, sedangkan Nusa Tenggara Timur masih di atas angka rata-rata nasional.

Selain infrastruktur kesehatan, kesenjangan itu juga dipengaruhi faktor sosial, ekonomi, dan budaya. Perlu upaya besar untuk mengatasi, ujarnya.

Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2007 memuat angka kematian ibu 228 per 100.000 kelahiran hidup. Tahun 2008, 4.692 ibu meninggal pada masa kehamilan, persalinan, dan nifas. Target MDG, antara lain, adalah angka kematian ibu melahirkan menjadi 118 per 100.000 kelahiran hidup.

Untuk memperbaiki kondisi itu, pemerintah membuat program revitalisasi puskesmas sebagai layanan kesehatan primer dengan dana Bantuan Operasional Kesehatan. Juga penguatan posyandu dan dinas kesehatan di daerah, serta RSUD. (INE)

 

This article's coverage of the information is as complete as it can be today. But you should always leave open the possibility that future research could uncover new facts.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar